Terkadang aku
dapati gelak tawa di antara derai isak tangis.
Teracuh.
Memilih untuk acuh. Disekap oleh ganas ambisi liar.
Sepenggal kisah
dari reruntuhan puing-puing kejayaan masa silam.
Mimpi itu kembali
nyata. Merobek jiwa. Mengubur asa.
Masa yang kembali berulang. Perih yang selalu terkenang.
Luka itu belumlah kering. Anyir nanah tetap menyisa di pelataran.
Dulu senjata
teracung ke arah mereka. Kini ke wajahmu, sayangku.
Dahulu lengan
kokoh merangkul. Kini kau tertindas.
Pentas para
biadab unjuk pamer kekuatan.
Siul licik para pembual.
Menabur janji kemudian ingkar.
Hanya itu. Jerat yang kadang terulang.
Tanahku
menghitam. Langitku tidak lagi biru.
Kadang dibebat
kenangan. Saat rindu menyeruak. Riuh darah juang tumpah tidaklah sia-sia.
Masih terasa.
Dulu.
Kini jamur racun ada di mana-mana.
Parasit penjaja virus.
Bukankah ini negeriku?
Teriris hati.
Terkapar dihajar muslihat. Terbuai arus, disesal angan.
Borok itu kian
menganga. Menunggu masa meregang nyawa.
Mungkin nanti.
Atau esok. Tidak lama lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Kata-kata adalah cerminan diri. Maka berkomentarlah dengan bijak.