Ketua Geng


"Apabila engkau mulai bingung dengan ajaran agamamu,
maka telusurilah jejak-jejak kemurnian ajarannya,
di tempat di mana ular kembali ke sarangnya."

Setelah sekian lama menjalani hidup bagai ulat bulu yang dihindari, kini dia telah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang terbang gagah mengepakkan sayapnya. Langkahnya diikuti. Titahnya dituruti. Sebagai orang yang pernah berjaya menaklukkan beberapa wilayah, wajarlah jika dia didaulat menjadi ketua geng di antara anak sebayanya. Geng anak sholeh, sayang ibu, sayang ayah.

Mereka berbagi tempat dengan anak-anak muda yang gemar nongkrong, bapak-bapak yang bergiliran tugas jaga, di pos ronda sebagai sekretariat. Tergantung waktu kapan tempat itu lowong, maka mereka menggunakannya untuk membahas apa saja. Kadang juga untuk kerja PR bersama atau muroja'ah hafalan.

Pentingnya wibawa pemimpin kelompok. Jika dia baik, maka yang dipimpinnya pun mudah diarahkan kepada kebaikan. Taklukkan pemimpinnya, maka kesetiaan rakyatnya bukanlah perkara sulit didapatkan.

"Syaikh Bambang, kenapa orang kalo sholat pake sarung, mereknya selalu di belakang?." tanya salah satu temannya.

"Karena kalo di depan, nanti tidak ada yang liat."

"Oooo..."

"Kita jangan seperti itu! Karena bisa merusak sholat orang di belakang kita. Bagaimana kalo tulisannya sampai dibaca? Gajah nungging. Sampingnya, kuda jingkrak. Sebelahnya lagi, Haji Bla... bla... bla... Caleg nomor urut 3 dapil 2 Makassar. Tidak boleh seperti ini!. Antara satu dengan yang lain, harus saling memperhatikan apa saja yang bisa merusak kekhusyuan sholat seseorang. Begitu kata Ustadz Hamzah kemarin dulu."

"Jadi yang mana lebih utama, sholat pakai sarung, atau sholat pakai celana, ustadz Bambang?." timpal temannya yang lain.

"Dua-duanya boleh. Ustadz Hamzah juga sering begitu. Ganti-gantian. Kadang pake sarung, kadang pake celana. Yang salah itu, kalo datang ke mesjid, tidak pake celana atau sarung sama sekali. Kelihatan anunya."

"Iiih... Kelihatan itunya."

"Jangan karena perkara celana atau sarung hingga tidak sholat sekalian. Tapi ingat, kain di bawah mata kaki, tempatnya di neraka. Ingat, jangan sampai lewat mata kaki. Oke?"

"Siap, Bos."

"Ayo kita ke mesjid lag!. Waktu Ashar hampir masuk. KIta lomba. Siapa duluan, dia yang berhak maju."

Berhamburan mereka berlari. Rebutan di tempat wudhu. Pun berdesakan di pintu masuk. Tapi sayang sekali, mereka kalah cepat oleh marbot Masjid yang telah berdiri dalam posisi siap. Kecewa, itu sudah pasti. Padahal sudah latihan adzan sejak tadi, disiang yang terik, disaat warga sedang istirahat, yang kadang diselingi aksi teriakan protes.

"WOI... KENAPA RIBUT SEKALI!." 

           Tapi tidak mengapa, hari ini kesempatan itu biarlah berlalu. Kerena esok selalu menjanjikan keceriaan. Untuk saat ini, cukup mengikuti apa yang dilafadzkan oleh muadzin. Berkata Ustadz Hamzah, pahalanya sudah hampir menyamai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kata-kata adalah cerminan diri. Maka berkomentarlah dengan bijak.