Tadarrus
Al Qur'an, dulu baginya adalah hal yang membosankan. Kadang terlalu serin jenuh
saat melihat model hurufnya yang lain-lain. Tapi sekarang tidak, meski masih
terbata-bata, kadang salah sebut, repot bolak-balik melihat daftar huruf
hijaiyah, kadang wajahnya mendongak mengingat-ingat pelajaran kemarin sore, itu
semua tidak menyurutkan tekadnya untuk berubah.
Tidak lupa pula dia mengajak semua anak-anak dari
wilayah yang pernah ditaklukkannya untuk ikut memakmurkan mesjid. Sekaligus
bersama menciptakan suasana kondusif untuk belajar. Angin segar bagi takmir
mesjid yang selama ini selalu kewalahan menangani tingkah aktif anak-anak yang
kadang tidak terkendali.
"Awas! Sebentar ada yang ribut, benjol
kepalanya." ancamnya disertai tinju yang teracung.
"Ih... Bahayanya deh." celutuk sebagian anak.
"Terus... Kalo ada yang tidak pergi ke mesjid
gara-gara saya pukul, saya tunggu besoknya di 'panyyingkul'."
"Apa itu panyyingkul,
Bambang?."
"Perempatan menuju sekolah. Mau lewat ma-na?."
Akumulasi dari itu semua, kian hari makin bertambah
jumlah warga yang ikut sholat berjamaah. Bagaimana tidak, sembari mengajak
anaknya, bapaknya pun tidak luput jadi sasaran berondongan pertanyaan. 'Kenapa
tidak pernah muncul di mesjid, Om?.' Mana tahan coba? Tiap hari.
Untuk pengajaran ilmu, mereka diasuh oleh Ustadz
Hamzah, mahasiswa yang tinggal di Mesjid, yang memang perhatian dengan kesukaan
dunia anak-anak. Kadang mereka diajak main bola bersama. Kadang diajak senam
pagi bersama. Terkadang juga jalan-jalan santai, sambil tadabbur alam disore
hari.
Beginilah seharusnya metode pengajaran seorang ustadz.
Harus tahu keadaan orang-orang yang sedang dihadapinya. Bijak dalam
menyampaikan materi ceramah. Jadi teruntuk orang awam, bahasanya pun juga yang
dapat dimengerti oleh orang awam.
Penguatan aqidah menjadi prioritas utama untuk
didahulukan. Pemahaman terhadap tauhid yang benar kepada Alloh Subhana wa
Ta'ala, lebih mudah terwujud jika ditanamkan sejak dini. Dibutuhkan sinergi
antara semua pihak dalam hal ini.
Rumah adalah benteng pertama terjaganya moral generasi
muda. Jika dari sini goyah, maka lingkungan dengan mudah akan
mengombang-ambingkannya. Kolaborasi antara pendidik dan orang tua tidak boleh parsial,
harus menyeluruh. Berterusan, tanpa pernah ada kata 'barangkali ini sudah
cukup'.
Di masa silam, Masjid adalah poros pergerakan.
Segalanya dibahas dan diputuskan di tempat mulia ini. Pun demikian, selain
penguatan aqidah, pelajaran umum dan penelusuran bakat melalui games, kadang diselipkan
sebagai tambahan modal agar mereka dapat bersaing di masa depan. Sebatas
pelengkap apa yang mereka peroleh di sekolah.
Pembinaan ummat lebih utama didahulukan dibanding
pembangunan fisik masjid. Banyaknya saldo kas bukanlah tolak ukur suksesnya sebuah
kepanitiaan. Baginda Rosul diutus bukan untuk meninggikan menara mesjid,
melainkan lebih kepada bagaimana menanamkan pemahaman tauhid yang benar kepada
Alloh Subhana wa Ta'ala.
"Maka
barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Tuhan_nya, maka hendaklah dia
mengerjakan kebaikan dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam
beribadah kepada Tuhan_nya."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Kata-kata adalah cerminan diri. Maka berkomentarlah dengan bijak.