Muhammad Ibrohim, Namaku

Perawakannya tinggi besar. Umurnya baru menginjak sebelas tahun desember kemarin. Awalnya, dia anak yang sangat nakal. Sekarang? Masih sama, nakal juga. Itulah mengapa orang-orang memanggilnya, Bambang -berasal dari bahasa Makassar yang berarti ‘Panas’- karena kenakalan yang bikin stres kedua orangtuanya. 

'Menjadi Tukang Pukul. Siapa Rewa? Maju semuanya!' seperti itu pernyataan yang tertera di kolom cita-cita biodata sekolahnya. Menjadi yang terkuat, ditakuti siapapun adalah obesesinya. Dan berkelahi adalah jalan yang ditempuhnya untuk mewujudkan ambisinya itu.

Begitulah, disaat anak-anak seusianya pulang sekolah langsung kembali ke rumah, kerja PR, tidur siang. Dia tidak. Terlebih dahulu dia menyempatkan diri mencari lawan untuk dihajar. Dia ditakuti. Kehadirannya dihindari. Macam-macam, berarti benjol. Mungkin gara-gara hobinya itulah, hingga dia dinobatkan sebagai salah satu dari 100 tokoh paling berpengaruh di Rappokalling. Nomor dua, di bawah Daeng Jarre, versi anak-anak.

Padahal, namanya terdiri dari dua manusia mulia, penyandang gelar kekasih Alloh Subhana Wa Ta'ala di dunia ini. Harapannya agar kelak dia bertumbuh menjadi anak yang soleh, sumber kebanggaan bagi keluarga. Namun sayang, apa mau dikata, justru kepribadiannya bertolak belakang dengan kedua sosok manusia mulia tersebut.

Berhasil menaklukkan anak-anak sekampungnya, bukannya berhenti, malah obsesinya kian menjadi-jadi saja. Bahkan, lebih dari sebulan yang lalu, dia mulai melakukan ekspansi kekuasaan di desa-desa tetangga. Gempar? Itu sudah pasti. Tiap anak yang ditemuinya, langsung diajaknya berkelahi. Ada yang menangis lari pulang, ada yang sembunyi ketakutan. Sungguh, kedatangannya adalah momok menakutkan bagi siapa saja. Sampai-sampai ada beberapa orang tua, menggunakan nama besarnya sebagai sarana untuk meredam kebandelan anak-anak mereka.

Dia memang hebat -brutal kata lawan-lawannya. Pernah dia dikeroyok sepuluh orang, dilawan semuanya, dan menang. Wajar jika dalam sekejap wilayah tetangga pun ikut takluk dan mengakui keberaniannya. Diusianya yang masih belia, terhitung sepuluh daerah telah ditaklukkannya -rasa-rasanya itu sudah cukup untuk mencalonkan diri jadi kepala desa dimasa mendatang. Oleh sebab itu, dia pun mendapat satu julukan lagi; Bambang Si Tukang Jagal -melengkapi julukan lamanya; Bambang Anaknya Pak Saepuddin.

Engkau harus percaya padaku bahwa Alloh Azza Wa Jalla, Tuhanku, Tuhanmu, Tuhan semesta alam -terlepas apakah engkau mau mengakuinya atau tidak- Dia adalah Robb yang maha membolak-balikkan hati. Hatiku, hatimu, hati siapa saja, tidak ada yang aman dari kekuasaan_Nya. Lalu kemanakah engkau merasa nyaman, tenteram ingin bersembunyi?.

Begitulah, seketika kehidupannya berbalik arah tiga ratus enam puluh derajat -kurang-kurang sedikit. Sebabnya tidak lain saat dia baru tiba sepulang berkelahi, didapatinya Ibunya sedang terbaring lemah menahan sakit. Pelan langkahnya mendekat, duduk di samping beliau.

“Ibu... Yang mana yang sakit?. Biar Bambang pijit." 

“Emm... Anak Ibu habis berkelahi lagi?.” Beliau balik bertanya, sembari menatap haru keadaan anaknya dari ujung ke ujung. Rambut berantakan. Pelipis benjol. Kening lebam. Hidung berdarah. Bibir bengkak. Baju robek sana-sini. Antara wajah dengan baju, hampir sama kusutnya, berantakan tidak karuan. Hati siapa coba yang tidak terluka?.

“Hiks... Kemari sayang, biar Ibu peluk!” Diraihnya kepala itu masuk ke dalam pelukan hangat beliau. Ditatanya rambut kusut-masai itu hingga benar-benar rapi. “Muhammad Ibrohim, anak Ibu. Ibu sayang sama, Bambang. Sa-yaang sekali. Ibu sedih tiap kali Bambang pulang berdarah-darah."

"Ibu tidak usah sedih. Bambang tidak apa-apa. Lagian, Bambang begini biar punya banyak anak buah. Nanti kalo sudah banyak, biar mereka saja yang kerja. Jadi bos besar, Bambang tinggal terima setoran saja. Santai-santai di rumah kita bisa kaya, Ibu. Ibu dan ayah bisa cepat-cepat ke tanah suci." 

"Hiks... Tetap saja. Ibu tidak berharap itu semua dari Bambang. Ibu tidak pernah berharap melahirkan Bambang sebagai anak nakal."

“Tapi kan, Bambang tidak nakal di rumah, penurut, tidak pernah melawan perintah, Ibu.”

“Iya sayang... Ibu juga tahu, Bambang kalo di rumah, itu jadi anak yang baik. Tapi Bambang… Ibu sakit sa-yang. Rasa-rasanya, Ibu tidak akan bertahan lebih lama lagi. Sebentar lagi, Ibu akan meninggalkan Bambang seorang diri. Bambang harus kuat tanpa Ibu di sini. Ibu hanya berharap, saat Ibu pergi, Bambang bisa jadi anak yang baik, soleh, entah itu di rumah atau di mana saja. Ibu juga berharap, tiap hari Bambang mendoakan Ibu tiap kali selesai sholat. Tapi... Bagaimana mau dikabulkan doanya, kalo Bambang seperti ini terus?. Muhammad Ibrohim, kekasih Ibu… Alloh tidak akan mengabulkan doa dari anak yang nakal, suka berkelahi, suka menyakiti sesama. Tidak ada itu!. Hanya doa anak yang sholeh. Jadi kalo memang sayang sama, Ibu, Bambang harus jadi anak yang sholeh, yang gemar beribadah kepada Alloh! Bukan menjadi tukang pukul, sesuai cita-cita Bambang yang bikin Ibu sedih tiap kali memikirkan anak kesayangan, Ibu. Ibu sangat menyayangi, Bambang. Sa-yaang sekali.” 

Kembali didekap kepala itu lebih erat lagi, penuh kasih sayang. Kemudian dikecupnya kening anak itu tiada henti. Bambang sendiri, hanya diam, berusaha meresapi apa yang barusan di dengarnya.

“Muhammad Ibrohim, anak Ibu… Se-ka-rang, Ibu ingin istirahat sayang. Ibu ingin istirahat dengan tenang.” ujar Ibunya, lemah. Lalu, menghilang.

“IBUUUUUUUUU… IBUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU.... BANGUN IBUUUUUUUUUUU.” teriak Bambang histeris.

“Astaga… Jangan teriak-teriak, Bambang! Ibu tidak bisa ti-dur.”

“Hah…” desah Bambang, bingung. “Ooo... Ya sudah, Bambang juga mau tidur.”

Lalu direbahkannya kepalanya di samping ibunya. Ditariknya lengan beliau, melingkari tubuhnya hingga rapat tiada berjarak. Didekapnya pula lengan ringkih itu dengan jari-jemari saling bertaut. Begitulah kebiasaannya jika ingin bermanja-manja dengan ibunya. Rupanya, 'istirahat dengan tenang' yang dimaksud oleh beliau hanya tidur biasa akibat pengaruh obat-obatan.

"Emmh... Kenapa kekasih Ibu bau sekali? Seperti bau...."

"Tadi Bambang berkelahi di sawah yang banyak tai sapinya." Jawabnya polos. "Tapi Bambang sudah mandi di Mesjid, Ibu. Serius. Sumpah!." 

"Hiks... Ibu sayang sama, Bambang. Sa-yaang sekali." Kemudian diciuminya kepala anak itu lembut, bersama jatuhnya beberapa tetes kristal bening dari pelupuk mata beliau. Hati siapakah yang tidak terluka dengan hal semacam ini?.

Tapi demikianlah adanya, sebulan berikutnya, beliau menghembuskan nafas terakhirnya, dipelukan anak dan suami yang dicintainya. Beliau pergi dengan tenang, menyisakan duka di hati anak semata wayangnya.

Bambang sendiri, walau masih terlalu sering didera rasa sakit akibat kerinduan. Terkadang menangis sendiri tatkala mencari Ibunya. Satu hal yang selalu dia ingat, tentang sebuah harapan yang dititipkan beliau untuk dirinya ; Dia harus menjadi anak yang sholeh, sesholeh-solehnya, apappun caranya.

Maka dari itu, ketika kembali bersekolah, hal pertama yang dia lakukan, itu menemui guru kelas tiganya untuk merevisi biodata. Untungnya, dokumen itu diarsipkan, jadi masih bisa ketemu. Apalah jadinya satu sekolah, jika berkas itu sampai hilang? Gempar, itu bisa jadi.

“Ibu Guru… Hiks... Namaku, Muhammad Ibrohim. Anak kesayangan, Ibuku. Boleh juga dipanggil, Bambang. Cita-citaku... Hiks... Menjadi anak sholeh. ANAK SHOLEH, IBU GURU. Terima kasih. Assalamu 'alaikum.”

Kemudian Bambang pergi, meninggalkan Ibu Guru yang menatapnya terheran-heran. Tapi kemudian, ikut tersenyum melihat tekad dari anak muridnya itu.

            “Aamiin… Aamiin, Muhammad Ibrohim. Wa 'alaikum salam, Nak.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kata-kata adalah cerminan diri. Maka berkomentarlah dengan bijak.